Inside Voice


Suara dalam  (inside vocie)  yaitu suara dengan volume standar di ruangan , nampaknya perlu ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Karena sekarang ini anak -anak cenderung berteriak ketika menyampaikan sesuatu, bahkan saat berbicara dengan teman disebelahnya sekalipun.

Pembiasaan untuk menggunakan suara dalam juga membuat anak dapat mengkontrol suaranya. Kapan harus lantang dan kapan lembut?

Namun demikian pembiasaan ini tidak serta merta terbentuk. Perlu pembiasaan yang intens.

Ketika anak lalai, guru dapat mengingatkan dengan ” gunakan suara dalam …”

Sumber: hasil pembelajaran dengan sekolah Al Falah Jakarta
Terinspirasi dari blog http://gurukreatif.wordpress.com

Advertisements

,

Leave a comment

Metode Global – Membaca Menulis Permulaan


Metode Global atau metode kalimat adalah sebuah metode MMP yang diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global. Untuk membantu pengenalan kalimat biasanya digunakan gambar. Gambar tersebut dituliskan kalimat yang merujuk pada makna gambar.

Contoh  kalimat:
ini kuda

Maka gambar yang cocok untuk menyertai kalimat itu adalah gambar kuda.

Selanjutnya setelah anak diperkenalkan dengan beberapa kalimat, barulah proses pembelajaran MMP dimulai.

Mula-mula guru mengambil salah satu kalimat dari beberapa kalimat yang diperkenàlkan di awal pembelajaran. Kalimat tersebut dijadikan dasar/alat untuk pembelajaran MMP . Melalui proses deglobalisasi ( proses penguraian kalimat menjadi satuan-satuan   yang lebih kecil, yakni menjadi kata , suku kata,  dan huruf) , selanjutnya anak menjalani proses belajar MMP.

Proses penguraian kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata , suku kata menjadi huruf-huruf, tidak disertai dengan proses sintesis (perangkaian kembali)

Contoh

Ini  kuda
Ini        kuda
I-ni     ku-da
I-n-i      k-u-d-a

, , , ,

Leave a comment

Metode Pembelajaran MMP- Metode SAS


Metode SAS adalah salah satu metode Pembelajaran Membaca Menulis Permulaan.

SAS singkatan dari Struktural Analitik Sintetik. Metode  ini mengawali pelajaran dengan menampilkan kalimat secara utuh. Mula-mula anak diperkenalkan sebuah struktur yang memberi makna lengkap yakni struktur kalimat.

Kemudian melalui proses analitik, anak-anak diajak untuk mengenal konsep kata. Kalimat utuh dijadikan tonggak dasar untuk membaca permulaan ini diuraikan menjadi satuan-satuan bahasa yang lebih kecil  yang disebut kata. Proses analisa ini berlanjut hingga pada wujud satuan bahasa yang terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi yakni huruf.

Proses penganalisa/penguraian dalam metode SAS meliputi:

  1. kalimat menjadi kata-kata
  2. kata menjadi suku kata
  3. suku kata menjadi huruf-huruf

Tahap selanjutnya anak didorong untuk melakukan sinstesa (menyimpulkan). Satuan-satuan bahasa yang telah diurai dikembalikan lagi . Huruf-huruf menjadi sukukata  kemudian menjadi kata dan akhirnya kalimat. Dengan Proses sintesis ini anak akan menemukan kembali struktur semual yakni kalimat secara utuh.

Contoh   Bahan ajar dengan metode SAS

Tema: Keluargaku

ini ayah

ini           ayah

i-ni         a-yah

i-n-i       a-y-a-h

ini          ayah

ini ayah

Beberapa manfaat dari metode SAS ini adalah:

  • metode ini sejalan dengan prinsip linguistik yang memandang satuan bahasa terkecil untuk berkomunikasi adalah kalimat . Kalimat dibentuk oleh stauan bahasa yakni kata, suku kata dan fonem (huruf-huruf)
  • mempertimbangkan pengalaman berbahasa anak. karena dimulai dari sesuatu yang dikenal anak
  • sesuai dengan prinsip inkuiri (menemukan sendiri). Anak mengenal dan memahami sesuatu berdasarkan temuannya. Sikap ini akan membantunya dalam mencapai keberhasilan belajar.

, , , , , ,

Leave a comment

Membaca Menulis Permulaan (MMP)


MMP adalah Membaca Menulis Permulaan yang merupakan program pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan membaca dan menulis permulaan di kelas-kelas awal SD.

Kemampuan membaca  permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan membaca tingkat dasar yakni  kemampuan melek huruf. Artinya anak-anak dapa mengubah dan melafalkan lambang-lambang tertulis menjadi bunyi yang bermakna. Pada tahap ini sangat dimungkinkan anak-anak dapat melafalkan lambang-lambang huruf  yang dibacanya tanpa diikuti oleh pemahaman terhadap lambang bunyi tersebut.

Kemampuan melek huruf ini  selanjutnya dibina dan ditingkatkan menuju kemampuan membaca tingkat lanjut yaitu melek wacana.

Kemampuan menulispermulaan tidak jauh berbeda dengan kemampuan membaca permulaan. Pada tingkat dasar/permulaan , pembelajaran menulis diorientasikan pada kemampuan yang bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan lambang-lambang tulis yang jika dirangkaikandalam sebuah struktur, lambang-lambang itu menjadi bermakna.

Dengan kemampuan dasar ini anak-anak, secara perlahan-lahan anak-anak akan digiring pada kemampuan menuangkan gagasan, pikiran, perasaan ke dalam bentuk tulis.

sumber : T, W Solehan  dkk, Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, Universitas Terbuka 2014

, , ,

Leave a comment

Elicitation


Elicitation

Elicitation is a technique by which the teacher gets the learners to give information rather than giving it to them.

Example
A teacher elicits the rules for the structure of the first conditional by asking learners to look at some examples, then writing ‘We make the first conditional in English with…?’ on the board.

In the classroom
Elicitation is an important technique for various reasons. It helps develop a learner-centred dynamic, it makes learning memorable as learners can link new and old information, and it can help produce a dynamic and stimulating environment.

source : http://www.teachingenglish.org.uk/knowledge-database/elicitation

2 Comments

Telepathic Reading


This is one of teaching reading technique which is useful for your TEYL Class.
How does it work?

Put students in pairs, face to face. Each student is to read the same reading text silently. They should listen to the teacher’s code to start and stop reading.
When teacher says stop they have to say the last word they read. if they have the same word with their partner they will get score.

Happy teaching!

1 Comment

2014 in Review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here's an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 160,000 times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 7 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Leave a comment