Menjadi Guru Berkualitas

Gaung Sertifikasi Guru dalam jabatan tahun 2010 sudah terdengar. Para guru yang masuk dalam daftar pengajuan peserta sertifikasi tahun ini, sibuk mempersiapkan diri guna melengkapi portofolionya. Mengumpulkan piagam/sertifikat hasil pelatihan, penataran, workshop dll. Memilih-milih Rencana Pembelajaran yang pantas untuk ditampilkan, mendokumenasikan alat peraga yang pernah dibuat , mengumpulkan berbagai hasil kejuaraan siswa sebagai bukti bahwa guru telah mengadakan bimbingan, menyertakan PTK juga karya ilmiah dsb.

Kegiatan melengkapi portofolio itu bukan hal yang merepotkan apabila sejak awal (sejak berprofesi sebagai guru) sudah berkomitmen untuk menjadi guru yang bermutu. Artinya melaksanakan tugas-tugas keprofesiannya dengan penuh dedikasi dan tangung jawab. Contohnya sang guru selalu membuat skenario pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan kriteria penyusunan RPP, Sang guru selalu membuat alat peraga yang menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. Lebih baik lagi apabila sang guru pernah mengadakan penelitan yang tertuang dalam PTK, dll

Ukuran kualitas seorang guru bukan diukur dari banyaknya pelatihan/seminar yang diikuti, atau lamanya masa mengajar . Karena itu bukanlah jaminan. Jadi tak perlu iri dengan rekan senior yang memiliki koleksi berpuluh-puluh piagam pelatihan, tak perlu minder karena masa kerja kita masih balita dsb. Yang terpenting adalah bagaimana kita melaksanakan tugas-tugas dengan dengan baik sesuai dengan profesi kita.

Sertifikasi pendidik adalah sebuah jalur yang memberi pengukuhan bahwa kita adalah guru yang profesional dengan kata lain ’sudah disertifikasi’.Tapi Apakah guru yang berkualitas itu indikatornya adalah guru yang telah bersertifikat? wallahualam

Bagi kita, para guru Indonesia yang perlu ditanamkan adalah ada atau tidak ada sertifikasi- sudah atau belum mengantongi gelar bersertifikat pendidik, kita tetap menjalankan tugas-tugas profesi kita dengan baik sehingga kita menjadi guru yang berkualitas dan dapat mencetak anak didik yang berkualitas.

,

  1. #1 by duniaanalitika on 8 March 2010 - 7:17 am

    Jarang orang Indonesia yang bekerja dengan penuh dedikasi. Itulah salah satu faktor yang menghambat bangsa ini. Bekerja demi diri sendiri…… Sisihkan sedikit dalam diri kita untuk kemajuan bangsa ini. Apa yang bisa kuberikan untuk bangsaku ? Aku sendiri yang tahu…

    • #2 by Ms. Resty on 10 March 2010 - 2:33 am

      Setuju pak. Seharusnya kita bertanya apa yang dapat ku berikan pada bangsaku? bukan sebaliknya . Saya yakin masih ada orang Indonesia terutama para guru yang bekerja penuh pengabdian. Terima kasih commentnya. Salam Kenal…

  2. #3 by bundadontworry on 15 March 2010 - 5:38 am

    namun begitu, seorang guru agar dpt mengajar dan memberikan ilmu yg sempurna pd anak didik , perlu didukung dengan sarana dan prasarana yg mencukupi.
    jangan sampai seorang guru bengong, ketika anak didiknya ternyata lebih canggih dgn peralatan komputer, hanya krn disekolah tdk ada sarana utk keperluan sekolah utk menunjang aktivitas seorang pengajar.
    Maaf, ini hanya pendapat pribadi bunda saja.
    kalau ada yg kurang berkenan, mohon dimaafkan🙂
    salam

    • #4 by Ms. Resty on 15 March 2010 - 5:46 am

      Mudah-mudahan guru yang profesional tidak kehilangaan semangat kreativitasnya sehingga tetap dapat mengikuti perkembangan teknologi. Betul bunda, jangan sampai siswa lebih tahu tentang pengetahuan tentang TIK sedangkan gurunya gaptek. Wah,.. jauh-jauh deh
      Thanks ya bun, atas commentnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: